Skip to main content

(ARAH) BAB 5 - KEPUTUSAN

2 minggu sudah aku tidak diberi kabar oleh Mas Raka dan tiba tiba dia meneleponku, menanyakan kabarku, akan tetapi dia selalu curiga denganku. Entah ada apa ini, baru 2 bulan berjalan hubunganku dan juga perkenalanku, tetapi Mas Raka sedikit berubah. Aku bukan sedih hanya heran saja yang tidak diberi kabar adalah aku,dan mengapa dia malah curiga kepadaku, bukankah seharusnya aku yang mempunyai rasa itu kepadanya. Sedikit memahami lagi,mungkin dia curiga karena selain jarak kami jauh.


Mas Raka juga bukan aparat biasa yang bisa seperti aparat lainnya bebas berjumpa dengan kekasih hatinya. Mungkin karena itulah gaya berpacaran kami agak lain, ya aku mengerti itu, aku pun mencoba selalu mengerti sikapnya yang walaupum sebenarnya sedikit membuatku marah. Akan tetapi hubungan dengan sikap yang sama - sama mengeluarkan amarah akan membuat tidak nyaman dan akan semakin ruwet. Dengan alasan itu lah aku mencoba untuk sabar memberi pengertian kepadanya selama aku bisa sabar dan mempunyai kepala dingin untuk menjelaskannya.

" From Mas Raka
  dmn ?

  From Me
  dikos mas ,mas lagi apa ?, sudah makan ?, udah pulang ?

  From Mas Raka
  kamu lagi sama siapa?

  From Me
  aku di kos sendiri seperti biasanya mas..

  From Mas Raka
  Bohong!!!!,jawab jujur dek,,lagi sama siapa?!!!!!
"
Karena aku paham betul dia sudah marah, maka pilihanku adalah mengalah, dan kudiamkan sejenak.
selang beberapa menit telfonku berbunyi

"hallo", kataku mencoba seriang mungkin
"dimana sih dek kamu?", kata Mas Raka agak lemas
"aku di kos , Mas Raka", kataku sabar
"di kos sama siapa?", sendiri seperti biasanya mas
"temen - temenmu mana?, kenapaa dia ngga kamu sebut, bukanya dia di kos juga?", kata Mas Raka
"Ya dia kan di kamar nya mas, dan ngga sama aku" ,kataku meyakinkan
"kapan kesini", kata Mas Raka
"aku belum libur mas", kataku
"kamu ngga mau usaha buat aku?, kamu tu sbenernya sayang aku ngga sih, bingung aku dek sama kamu", kata Mas Raka membuat ku tambah bingung
"maksudnya apa mas, sebentar sebentar, ini tadi gimana sih...", kataku menunjukan kebingunganku
"makannya kalau aku ngomong dengerin dek, jangan ditinggal ngobrol!!", katanya membuatku sedikit lucu dan tertawa dan itu membuatnya semakin marah
"aku ngga pernah ya, ngomong dan diketawain, ngga ada yang beraniiiii !", katanya tegas
"ngga mas aku tuu....", kataku terpotong
"alahhh, udahlah dek" ,kata Mas Raka dan mematikan telefon nya tiba - tiba.

Hah, sabar hanya itu yang aku ungkapkan dalam hatiku. Aku tertawa bukan maksud untuk menghina atau tidak menghargai nya, aku hanya bingung dengan pikiran ku yang juga bingung, darimana mulainya dan konsentrasiku buyar karena itu. Dan semenjak telefon itu, dia tidak mengabariku sampai sekitar seminggu. Selama seminggu itu lumayan membuat aku sedikit galau, sedikit berpikir apakah aku melakukan suatu kesalahan sehingga membuat Mas Raka seperti sengaja mendiamkanku dan pas seminggu itu pula Mas Raka menelefonku

"hallo", kata ku
"sekarang libur kan ?, kesini ya  dek", kata Mas Raka menghalus
"kesana lagi?", kataku heran, apalagi posisi Mas Raka yang sedang marah, bertemu membuat ku berjuta ketakutan. Takut Mas Raka melakukan sesuatu yang tidak tidak, takut Mas Raka akan tambah melampiaskan kemarahan, hati semakin berdebar debar.
"dek!!!!, ko diam sih, mau ngga sih nyelesaikan masalah kita", katanya membuatku hanya bertanya dalam hati, masalah apa?.
"Mas, Iya tapi...", kataku terpotong olehnya
"mau ngga?", katanya
"aku bukannya ngga mau mas tapi...", kataku
"mau atau tidak ,jawabbb sekarang dekk!!!", katanya sedikit meninggi
"mas, aku cuma...", kataku sambil terbata - bata
"aku tunggu di kampung rambutan, sekarang aku jalan", katanya membuat aku semakin bingung
"mas disini agak gerimis, aku ngga ada payung", kataku
"jangan alasan dek", kata Mas Raka berprasangka lagi
"ngga mas bener", kataku
"temenku bilang ngga gerimis,,dah kamu kesini apa kita putus!!!!", katanya sambil mematikan telefonnya.

Ancamannya membuatku semakin terdiam dan malas menemuinya. Aku bisa disebut orang yang tidak suka diancam, karena saat diancam aku akan malah tidak akan melakukan sesuatu. Tak lama telefonku berbunyi lagi

"hallo",kataku tegas
"mau kesini ngga?", kata Mas Raka
"nggak!", kataku tegas
"oke kita putus...",katanya
aku diam dan sedikit sedih apakah hubungan yang singkat ini diukur dengan kata yang tidak pantas.
"Dekk,,,kenapa diem?", katanya
"ngga papa", kataku sedikit lemas
"kesini?", katanya halus
"iya - iya oke", kataku sedikit kesal.
Aku bukan karena takut diputuskan oleh Mas Raka, aku mengiyakan karena kata kata putus itu yang membuatku melawan keegoisan itu. Aku memulai perjalanan panjang melelahkan,dan memalaskan itu lagi. Jangan tanyakan suasana hatiku saat itu, hanya kemalasan yang aku rasakan, tumben sekali dia pun tidak menghubungiku, selama perjalanan. Sesampainya di kampung rambutan aku segera turun dan duduk di trotoar, sengaja aku tidak menghubunginya karena rasa malasku.

"dek sudah nunggu lama?", katanya menghampiriku dan seolah dia tidak ada salah.
"lumayan", kataku singkat
aku mengikuti Mas Raka untuk menuju parkir motor dan menuju kosnya (lagi).
"dek makan dulu ya", katanya menawarkan
"terserah", kataku
Tanpa basa - basi kami meluncur di suatu warung makan dikomplek dekat kos Mas Raka.
Setelah selesai kami pun menuju kos untuk...sesuatu yang tidak jelas dan tidak penting.

Comments

Popular posts from this blog

MY TWIN MY LIFE

"Litaaaa,aku disini", Lina berlari "Lina,,kamu dimana", Lita meraba raba "Aaaaaa ketangkepp",kata Anak yang lain. "Aaaaaaa Linaa, sembunyi sembunyi aku maw kesana", kata Lita "Aaaaaaa tangkap ayo aku disini wek wek wek", kata anak anak. "Anak anak waktunya makan siang sayang", teng teng teng, kata Mba Ratih pengasuh mereka yang menghentikan permainan mereka,dengan memukul lonceng yang biasa dibuat tanda mereka istirahat, bekerja dan tidur. "Iya bu, makan apa hari ini kita", kata Lina manja dan mulai bergelayut di tangan Mba Ratih.

(ARAH) BAB 2 - PETUALANGAN

"beb, pulang yuk, udah jam 2 nih", kata Arta teman ku. "eh iya yuk, tunggu ya aku prepare dulu", kata ku "hari ini kamu lain lo kerja nya, semangat banget, cerita dong kenapa ?", kata Arta "haha masak sih, semangat, ya kan emang kerja harus semangat Ta", kataku mengalihkan pembicaraan seperti tak ada sesuatu yang special. Mungkin kalau aku membagikan nya pada Arta, dia akan ingin tahu lebih dalam, dan ini masih terlalu dini untuk menceritakan kejadian special ini yang tanpa tidak sadar sudah merubah semangat kerjaku.

Apa yang Gani minta?

Pas Umroh kemaren gue sering jalan bareng-bareng Gani, sepupu gue yang masih kelas 5 SD. Si Gani ini, solatnya kenceng banget. Waktu solat di raudoh (tempat diantara makam nabi ama mimbarnya, yang katanya bakal dikabulin segala doa), dia solat dengan sangat khusyuk, solat terusss kerjaannya.