Setelah tertidur dan berasa bugar aku bangun dan mengambil handphoneku,sudab menunjukkan pukul 4 sore. Aku sedikit agak takut saat jam 7 Mas Raka belum juga pulang. Aku memberinya pesan lewat telefon
"to Mas Raka
belum pulang mas,jam berapa pulang?"
tapi belum ada jawaban darinya. Sampai jam delapan malam pintu kos pun diketuk.
"iya tunggu",kataku
"kok lama mas?,pulangnya?",tanyaku memberondongnya
"uluh ko gitu nanyanya, maaf dek,
tadi komandan tu belum istirahat, kalau komandan belum istirahat, aku ngga bisa keluar", katanya menjelaskanbelum pulang mas,jam berapa pulang?"
tapi belum ada jawaban darinya. Sampai jam delapan malam pintu kos pun diketuk.
"iya tunggu",kataku
"kok lama mas?,pulangnya?",tanyaku memberondongnya
"uluh ko gitu nanyanya, maaf dek,
"gitu?",kataku
"jangan marah sayang", katanya terdengat rancu ditelingaku
"ngga", kataku
dia menarikku kedalam pelukannya dan mengelus kepalaku.
"ini pekerjaanku, aku bukan Aparat biasa, aku juga seorang ajudan, jadi kapanpun panggilan itu datang, saat itu juga aku datang", kata Mas Raka menjelaskan.
Sedikit membuatku bisa menerimanya,ya kekasihku adalah aparat negara yang katanya sibuk sana sini. Okelah aku bisa terima penjelasannya walaupun aku masih sedikit menyayangkan aku belum bisa pulang hari ini.
Malam ini keakraban kita berbeda, kami tidak pernah canggung lagi untuk bercerita kontak fisik dan sebagainya.Yah mungkin ini mau Mas Raka, karena kita sudah saling suka untuk apa lagi kita memikirkan sesuatu yang tidak penting sperti pertemuan kita, dan proses terjadinya kita pacaran.
Mas Raka berkali kali mengungkapkan rasa sayangnya padaku, dia menenggelamkanku di pelukannya yang menghangatkanku malam itu. Awalnya aku tidak berpikir buruk padanya tapi, kejadian malam itu cukup membuatku sedikit hilang ingatan.
"cukup mas!!",kataku tegas
"dek, aku sayang kamu", katanya sedikit melemah
"aku juga sayang mas, tapi bukan begini mas tolong", kataku tinggi
aku tidak sampai hati, mengatakan bahwa kita ini masih butuh perkenalan banyak, karena proses pacaran kita yang tiba - tiba, aku takut dia teringgung dan marah.
Dia berhenti dan segera membenahi duduknya ,aku pun diam, kami pun hening dan saling terdiam.
"yaudalah dek, aku mau tidur", katanya
aku masih tertunduk dan terdiam, aku takut melakukan hal yang salah, hatiku berdebar kencang. Aku mengecewakannya, tapi kalau aku tidak menolaknya ,aku juga tidak bisa membiarkan kegiatannya sampai terlalu jauh.
Saat aku terdiam, Mas Raka memelukku dari belakang dan terlalu kuat membuat ku tidak bisa memberontak, karena aku pun juga sesungguhnya ingin memeluknya lebih erat.
"kamu percaya dek sama aku?",kata Mas Raka
"maksud mas",kataku bingung
"kamu percaya, aku ngga akan melukaimu, atau kamu masih takut denganku?", katanya memandangku lekat. Aku bingung, aku tetap takut kalau Mas Raka khilaf, dan berlaku diluar batas. Aku juga belum bisa meyakinkan diriku, bahwa Mas Raka yang terbaik untukku, prosesku masih lama untuk mengenalnya.
"dek, jawabbb akuuu",katanya berbisik ditelingaku
aku masih terdiam karena perlakuannya membuatku hilang konsentrasi. Dan malam itu kami lewati dengan berkasih berdua, kami tidak melakukan sesuatu yang terlarang, kami hanya berkasih layaknya seorang yang berpacaran yang telah saling mengenal.
Comments
Post a Comment